SRIKANDIDAILY.COM – Banyumas (25 April 2026)
Di sebuah sudut tenang di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, terdapat sebuah ruang sederhana yang setiap harinya menjadi saksi berbagai kisah: tangis yang pecah, luka yang diakui, dan perlahan… proses penyembuhan dimulai. Di sanalah Bunda Emi, atau yang memiliki nama lengkap Gusnemi, menjalankan perannya sebagai hipnoterapis—bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hidup.
Perjalanan Bunda Emi tidak lahir dari kenyamanan. Ia justru ditempa oleh pengalaman hidup yang penuh tekanan, luka, dan tuntutan untuk menjadi kuat sejak usia yang terlalu muda.
Remaja yang Dipaksa Dewasa
Jauh sebelum dikenal sebagai terapis, Bunda Emi adalah seorang anak remaja yang harus menjalani hidup mandiri, jauh dari orang tua. Demi pendidikan dan mengejar cita-cita, ia harus meninggalkan rumah dan menghadapi dunia sendirian.
Di usia di mana kebanyakan anak masih bergantung pada keluarga, ia justru belajar bertahan.
Ada rindu yang tidak selalu bisa diungkapkan. Ada rasa takut yang harus ditelan sendiri. Dan ada tekanan untuk tetap terlihat kuat, meskipun di dalam hati sedang tidak baik-baik saja.
Kondisi tersebut perlahan membentuk luka batin—luka yang seringkali tidak terlihat, namun terasa dalam.
“Di masa itu, saya belajar kuat. Tapi sebenarnya, ada bagian diri yang butuh dipeluk,” ungkapnya.
Pengalaman sebagai “anak kecil yang dipaksa dewasa” inilah yang kemudian membentuk empati mendalam dalam dirinya terhadap orang lain yang mengalami hal serupa.

Titik Balik: Luka Fisik yang Mengubah Arah Hidup
Saat duduk di bangku SMA, Bunda Emi mengalami kejadian yang cukup membekas: luka bakar akibat tersiram air panas. Peristiwa itu menjadi salah satu titik balik dalam hidupnya.
Bukan hanya karena rasa sakit secara fisik, tetapi juga karena dampak emosional yang ditinggalkan.
Alih-alih terpuruk, pengalaman tersebut justru melahirkan sebuah tekad: ia ingin membantu orang lain sembuh—bukan hanya dari luka fisik, tetapi juga luka batin.
“Dari situ saya mulai mencari, bagaimana caranya menyembuhkan orang,” katanya.
Tekad sederhana itu kemudian berkembang menjadi perjalanan panjang yang membawanya ke dunia terapi.
Menemukan Jalan: Hipnoterapi dan SEFT
Sejak tahun 2017, Bunda Emi mulai serius mendalami dunia penyembuhan, khususnya hipnoterapi dan SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique).
Hipnoterapi membantunya menjangkau pikiran bawah sadar—tempat di mana banyak luka emosional tersimpan. Sementara SEFT memberikan pendekatan spiritual yang membantu melepaskan beban emosi secara lebih menyeluruh.
Kombinasi keduanya menjadi metode utama yang ia gunakan dalam praktiknya hingga saat ini.
Bagi Bunda Emi, penyembuhan bukan sekadar teknik, tetapi proses menyentuh sisi terdalam manusia.
“Ketika seseorang bisa kembali merasa lega, bisa tersenyum lagi, itu kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan,” ujarnya.
90 Persen Klien: Luka Batin Pernikahan
Dalam perjalanannya sebagai terapis, Bunda Emi menemukan satu pola yang cukup kuat: sekitar 90 persen kliennya datang dengan luka batin yang berkaitan dengan pernikahan.
Mulai dari konflik rumah tangga, komunikasi yang tidak sehat, perselingkuhan, hingga trauma emosional yang berlangsung bertahun-tahun.
Banyak dari mereka terlihat baik-baik saja di luar, namun sebenarnya menyimpan luka yang dalam.
“Mereka terbiasa kuat. Tapi sebenarnya lelah,” katanya.
Di sinilah peran Bunda Emi menjadi penting. Ia hadir sebagai ruang aman—tempat di mana seseorang bisa jujur tanpa takut dihakimi.
Dengan pendekatan yang lembut dan penuh empati, ia membantu klien mengenali luka mereka, memproses emosi yang terpendam, dan perlahan bangkit kembali.
Praktik Sederhana, Dampak Nyata
Saat ini, Bunda Emi membuka praktik terapi di rumahnya di Purwokerto. Meski tidak berbentuk klinik besar, tempat tersebut justru memiliki kehangatan yang membuat klien merasa nyaman.
Setiap sesi bukan hanya tentang terapi, tetapi juga tentang didengarkan.
“Kadang orang tidak butuh solusi langsung. Mereka hanya butuh ruang untuk merasa,” jelasnya.
Dari ruang sederhana itu, dampak besar tercipta. Banyak klien yang datang dengan kondisi terpuruk, kemudian perlahan menemukan kembali kekuatan dalam dirinya.
Proses Penyembuhan dari Dalam
Melalui hipnoterapi, klien diajak masuk ke kondisi rileks untuk mengakses pikiran bawah sadar. Di sanalah luka lama biasanya tersimpan—baik dari masa kecil, pengalaman pahit, maupun hubungan yang menyakitkan.
Bunda Emi membantu klien untuk tidak lagi lari dari luka, tetapi berani melihatnya, memahami, dan melepaskannya.
“Lukanya tidak hilang, tapi rasa sakitnya bisa dilepaskan,” jelasnya.
Sementara melalui SEFT, pendekatan spiritual menjadi bagian penting dalam proses penyembuhan. Klien diajak untuk menghubungkan emosi dengan keyakinan, sehingga proses healing terasa lebih utuh.
Lebih dari Terapi: Misi Kehidupan
Bagi Bunda Emi, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah misi.
Ia percaya bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk sembuh, asalkan diberi ruang dan pendampingan yang tepat.
Pengalaman hidupnya membuat ia memahami satu hal penting: tidak semua orang yang terlihat kuat benar-benar baik-baik saja.
“Kadang yang paling butuh ditolong adalah yang paling terlihat kuat,” katanya.
Ruang Bertumbuh Perempuan: Segera Hadir
Tidak berhenti di praktik terapi, Bunda Emi kini tengah mempersiapkan langkah berikutnya: menghadirkan sebuah “ruang bertumbuh perempuan”.
Program ini dirancang sebagai wadah bagi perempuan untuk mengenal diri, menyembuhkan luka batin, dan mengembangkan potensi diri.
Ruang ini akan menjadi tempat belajar, berbagi, dan saling menguatkan—tanpa penghakiman.
“Insyallah segera launching. Ini ruang untuk perempuan kembali ke dirinya sendiri,” ujarnya.
Inisiatif ini menjadi bentuk komitmen Bunda Emi dalam memperluas dampak, tidak hanya secara individu tetapi juga komunitas.
Mimpi Besar: Rumah Cinta Ibu dan Anak
Di balik semua aktivitasnya, Bunda Emi menyimpan mimpi besar: mendirikan “Rumah Cinta Ibu dan Anak”.
Sebuah tempat yang tidak hanya fokus pada terapi, tetapi juga edukasi dan pembentukan hubungan sehat antara ibu dan anak.
Ia melihat banyak luka batin berakar dari hubungan keluarga yang tidak selesai. Karena itu, ia ingin menghadirkan solusi dari akar permasalahan tersebut.
“Kalau ibu dan anak sehat secara emosional, generasi ke depan juga akan lebih kuat,” katanya.

Penutup: Dari Luka Menjadi Jalan Cahaya
Perjalanan Bunda Emi adalah bukti bahwa luka tidak selalu menjadi akhir. Justru dari luka, seseorang bisa menemukan arah hidupnya.
Dari seorang remaja yang harus kuat sendirian, hingga menjadi sosok yang kini membantu banyak orang menyembuhkan luka batin—kisah ini adalah refleksi kekuatan, empati, dan harapan.
Di ruang sederhana di Purwokerto, setiap hari ada proses kecil yang terjadi. Tidak selalu terlihat, tidak selalu terdengar, tetapi nyata.
Dan mungkin, di situlah makna penyembuhan yang sesungguhnya: hadir, mendengar, dan membantu seseorang kembali menemukan dirinya.
Bunda Emi telah memilih jalannya—menjadi cahaya bagi orang lain yang sedang berada dalam gelap.
Dan dari sana, satu per satu, harapan kembali menyala. ✨
