Mengkhawatirkan, Aktivitas Gunung Slamet Naik: Status Waspada Level II, Radius Aman Diperluas

Srikandidaily.com | Pemalang (24 April 2026)

Situasi aktivitas vulkanik Gunung Slamet di Jawa Tengah kembali menjadi sorotan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan gunung tertinggi di Jawa Tengah ini berada pada Status Waspada (Level II), menyusul peningkatan signifikan pada suhu kawah dan aktivitas kegempaan dalam beberapa waktu terakhir.

Kondisi ini memicu peringatan dini kepada masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah sekitar lereng Gunung Slamet, agar meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi rekomendasi zona aman yang telah diperbarui.

Aktivitas Vulkanik Meningkat Signifikan

Berdasarkan hasil pemantauan PVMBG, terdapat dua indikator utama yang menunjukkan eskalasi aktivitas Gunung Slamet, yakni kenaikan suhu kawah dan lonjakan aktivitas kegempaan vulkanik.

Kepala PVMBG, Priatin Hadi Wijaya, mengungkapkan bahwa suhu kawah Gunung Slamet mengalami peningkatan yang cukup drastis dalam kurun waktu singkat. Sebelum Maret 2026, suhu kawah tercatat berada di kisaran 280 derajat Celcius. Namun, data terbaru menunjukkan lonjakan hingga mencapai sekitar 460 derajat Celcius, bahkan sempat menyentuh angka 478 derajat Celcius pada 18 April 2026.

“Kondisi ini mengindikasikan adanya akumulasi energi di bawah permukaan yang perlu diwaspadai bersama,” ujarnya dalam kegiatan sosialisasi mitigasi bencana geologi di Purwokerto, Kamis (23/4/2026).

Tak hanya itu, data kegempaan juga menunjukkan peningkatan signifikan, terutama pada gempa berfrekuensi rendah (low frequency). Jenis gempa ini umumnya menjadi indikator adanya pergerakan magma dari dalam bumi menuju kedalaman yang lebih dangkal.

Selain gempa low frequency, aktivitas tremor menerus atau microtremor juga mengalami penguatan. Amplitudo tremor yang sebelumnya berada di angka 0,5 mm kini meningkat menjadi 1 mm, bahkan sempat mencapai 1,5 mm pada 21 April 2026.

Secara visual, asap kawah masih berwarna putih, namun tampak lebih tebal dengan ketinggian yang meningkat. Hal ini memperkuat indikasi adanya dinamika aktivitas di dalam tubuh gunung.

Radius Aman Diperluas

Menanggapi perkembangan tersebut, PVMBG resmi memperluas radius aman di sekitar kawah puncak Gunung Slamet dari sebelumnya 2 kilometer menjadi 3 kilometer sejak 4 April 2026.

Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius tersebut demi menghindari potensi bahaya, seperti lontaran material pijar, gas beracun, hingga erupsi mendadak.

Langkah ini juga diikuti dengan peningkatan koordinasi antara PVMBG, BMKG, pemerintah daerah, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah terdampak.

Gunung Slamet sendiri secara administratif mencakup lima kabupaten, yakni Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Dengan cakupan wilayah yang luas, koordinasi lintas daerah menjadi kunci dalam mitigasi risiko bencana.

Pemerintah Daerah Diminta Siaga

PVMBG menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menyebut bahwa sosialisasi mitigasi menjadi langkah strategis dalam memperkuat kesiapan daerah menghadapi potensi erupsi.

“Desa tangguh bencana harus menjadi garda terdepan. Edukasi ke masyarakat perlu terus digencarkan agar respons yang dilakukan lebih cepat dan tepat,” jelasnya.

Pemerintah daerah juga diminta untuk memperbarui rencana kontingensi bencana yang sebelumnya telah disusun, termasuk jalur evakuasi, titik pengungsian, hingga sistem komunikasi darurat.

Potensi Kenaikan Status

Meski saat ini masih berada pada Level II (Waspada), PVMBG tidak menutup kemungkinan adanya peningkatan status apabila aktivitas vulkanik terus menunjukkan tren kenaikan.

“Jika terjadi peningkatan signifikan dan direkomendasikan oleh tim ahli, maka evaluasi hingga kenaikan status harus segera dilakukan,” tegas Priatin.

Hal ini menjadi sinyal bahwa situasi Gunung Slamet masih sangat dinamis dan membutuhkan pemantauan intensif secara berkelanjutan.

Profil Gunung Slamet: Raksasa di Jawa Tengah

Gunung Slamet merupakan gunung berapi tipe stratovolcano (kerucut) yang memiliki ketinggian 3.432 meter di atas permukaan laut, menjadikannya gunung tertinggi di Jawa Tengah.

Gunung ini terbentuk akibat proses subduksi Lempeng Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia, yang juga menjadi penyebab terbentuknya banyak gunung api di Pulau Jawa.

Dengan luas vegetasi sekitar 312 km² dan total area mencapai 560 km², Gunung Slamet dikenal sebagai salah satu gunung tunggal terbesar di Indonesia.

Secara historis, aktivitas letusan Gunung Slamet telah tercatat sejak abad ke-18, dengan erupsi besar terjadi pada tahun 1772, 1825, 1835, hingga aktivitas terakhir berupa lontaran lava pijar pada Mei–Juni 2009.

Karakter letusannya cenderung bertipe Strombolian, yakni menghasilkan lontaran material pijar di sekitar kawah tanpa diikuti awan panas besar seperti yang terjadi pada Gunung Merapi.

Imbauan untuk Pendaki dan Masyarakat

Dengan kondisi aktivitas yang meningkat, Gunung Slamet saat ini tidak direkomendasikan untuk aktivitas pendakian, terutama bagi pendaki pemula.

Selain faktor vulkanik, medan Gunung Slamet dikenal cukup ekstrem, dengan jalur terjal dan minim sumber air. Pendaki yang tetap nekat melakukan aktivitas tanpa memperhatikan kondisi terkini berisiko tinggi terhadap keselamatan.

Beberapa imbauan penting yang perlu diperhatikan:

  • Tidak memasuki radius 3 km dari kawah puncak
  • Selalu memantau informasi resmi dari PVMBG dan BMKG
  • Menghindari aktivitas pendakian hingga kondisi dinyatakan aman
  • Menyiapkan rencana evakuasi bagi warga sekitar lereng gunung
  • Tidak menyebarkan informasi hoaks terkait aktivitas gunung

Closing Statement: Jangan Anggap Remeh

Kondisi Gunung Slamet saat ini bukan untuk dipaniki, tapi juga jelas bukan untuk dianggap santai. Ini fase “warning mode”—artinya semua pihak harus on alert, bukan on denial.

Dengan data yang menunjukkan peningkatan suhu ekstrem dan aktivitas magma yang makin aktif, langkah mitigasi harus dijalankan secara disiplin. Keselamatan publik adalah prioritas utama.

Buat warga sekitar, tetap tenang tapi siaga. Buat pendaki, tahan dulu egonya—gunung nggak ke mana, tapi risiko bisa datang kapan saja.

SrikandiDaily akan terus memantau perkembangan terbaru terkait aktivitas Gunung Slamet dan menghadirkan update terpercaya untuk Anda.

Penulis: Redaksi SrikandiDaily
Sumber: PVMBG, BPBD Jawa Tengah

Website |  + posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *