SrikandiDaily.com | BANYUMAS, 27 November 2025 — Aktivitas di kawasan Bendung Gerak Serayu setiap sore selalu menyisakan cerita bagi para pedagang keliling yang menggantungkan hidup di ruang publik tersebut. Dari aroma jajanan pasar hingga deru sepeda yang melintas, bendung seakan terus menjadi “ruang ekonomi rakyat” di tengah dinamika perubahan yang mereka hadapi.
Beberapa pedagang mengaku mengalami penurunan pendapatan sejak diberlakukannya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh pemerintah. Program ini menyediakan makanan gratis untuk pelajar, sehingga pedagang yang dulu mengandalkan pembeli dari kalangan siswa kini harus berpikir ulang untuk bertahan.
Namun, bukannya menyerah, mereka justru mengalihkan strategi dan memilih kawasan Bendung Gerak Serayu sebagai pasar baru yang lebih hidup, terutama pada sore hari, akhir pekan, dan Minggu pagi.
Salah satu sosok yang menjadi representasi semangat juang itu adalah Pak Mancung, penjual kue sarang laba-laba yang sudah bertahun-tahun menyusuri area bendung. Kisahnya menjadi potret bagaimana pedagang kecil terus bertahan meski keadaan berubah cepat.
—
Bendung Gerak Serayu Menjadi “Ruang Nafas” Pedagang Kecil
Letaknya yang berada di jalur penghubung Banyumas–Purbalingga menjadikan Bendung Gerak Serayu sebagai tempat rekreasi murah meriah favorit warga. Jalur jogging, tepi sungai yang sejuk, dan suasana sore yang selalu ramai membuat kawasan ini tidak pernah kehilangan pengunjung.
Sejak pukul 15.00 WIB, kawasan bendung mulai ramai oleh warga yang berolahraga, keluarga yang bersantai, hingga anak muda yang nongkrong. Di sela-sela keramaian itulah para pedagang keliling melihat peluang.
> “Kalau sore lumayan ramai, mba. Banyak yang olahraga sambil cari jajan kecil,” tutur Pak Mancung, sambil menuang adonan kue sarang laba-laba ke wajan bundarnya yang sudah menghitam karena usia.
Para pedagang yang semula bergantung pada pembeli di sekolah kini lebih memilih jam kerja baru: shift sore hingga malam, serta shift Minggu pagi karena trafik pengunjung meningkat tajam.
—
Dampak Program MBG: Penjualan di Sekolah Menurun Tajam
Program Makan Bergizi Gratis memberikan akses makanan sehat untuk pelajar. Tetapi tanpa disadari, program nasional ini memberi efek domino bagi pedagang kecil yang biasa berjualan di depan sekolah.
Beberapa pedagang makanan ringan mengaku penjualan mereka turun 40–60 persen sejak MBG berjalan. Bila sebelumnya mereka menjual puluhan porsi dalam sehari, kini angka itu jauh menurun.
Seorang pedagang cireng yang biasa mangkal di depan SMP bercerita:
> “Anak-anak sekarang sudah dapat jatah makan gratis. Jadi mereka jarang beli jajanan tambahan. Bukan salah siapa-siapa, programnya bagus, cuma ya kami harus cari tempat lain buat bertahan.”
Karena itu, banyak pedagang memilih lokasi baru yang lebih potensial — dan Bendung Gerak Serayu menjadi jawaban paling rasional.
—
Pak Mancung: Antara Rezeki, Ketekunan, dan Kue Sarang Laba-Laba
Dengan gerobak mungil dan senyum ramah yang tidak pernah absen, Pak Mancung menjadi salah satu pedagang paling dikenal di area bendung. Ia sudah lama berjualan kue sarang laba-laba.
Pendapatan Pak Mancung kini tidak menentu. Kadang ia mengantongi Rp150 ribu sehari, kadang hanya Rp40 ribu. Namun ia tak pernah terlihat murung.
> “Rezeki itu sing penting diupayakan. Ora mesti akeh, sing penting halal lan berkah,” ujarnya sembari tersenyum.
Kue sarang laba-laba buatannya jadi favorit anak-anak karena bentuknya unik dan proses memasaknya menarik. Tidak jarang pembeli datang sekadar melihat proses “menggambar adonan” yang memutar seperti jaring laba-laba.
—
Ekosistem Ekonomi Kecil yang Saling Menguatkan
Bendung Gerak Serayu menjadi ruang bertemunya banyak pedagang dari berbagai jenis:
penjual cilok
pedagang siomay dan bakso tusuk
penjual minuman dingin dan es tebu
pedagang jajanan pasar
penjual makanan ringan
serta gerobak legendaris kue sarang laba-laba Pak Mancung
Meski masing-masing punya target pembeli, tidak ada persaingan tidak sehat. Justru mereka saling bantu dan saling arahkan pembeli.
Seorang pedagang cilok mengungkapkan:
> “Kalau ada yang nanya makanan tertentu, ya kita tunjukkan ke pedagang lain. Di sini rezeki saling berbagi.”
Fenomena ini membuat kawasan bendung tidak hanya menjadi tempat olahraga, tetapi juga “pasar informal” yang nyaman dan hidup.
—
Akhir Pekan dan Minggu Pagi: Puncak Keramaian
Jika sore hari memberikan pemasukan harian bagi pedagang, maka akhir pekan adalah momen emas. Pada Sabtu sore, banyak keluarga datang untuk rekreasi usai sepekan bekerja. Namun puncak sebenarnya adalah Minggu pagi, ketika komunitas sepeda, pelari, dan keluarga datang bersamaan.
Pada momen tersebut, pendapatan pedagang bisa berlipat.
> “Kalau Minggu bisa ramai banget, mba. Kue bisa habis lebih banyak adonannya,” kata Pak Mancung.
Suasana yang hidup ini menjadi “oksigen” baru bagi pedagang yang sebelumnya terpukul oleh penurunan di sekolah akibat MBG.

Peran Ruang Publik: Tempat Penghidupan yang Patut Dijaga
Dengan semakin banyak pedagang beralih ke ruang publik, mereka berharap ada perhatian dari pemerintah daerah terkait penataan area pedagang, fasilitas kebersihan, dan kenyamanan pengunjung.
Beberapa harapan yang mereka suarakan:
penambahan tempat sampah
penerangan yang lebih merata
area parkir lebih tertib
zona pedagang yang jelas agar tidak mengganggu aktivitas olahraga
Pedagang sadar keberadaan mereka melekat dengan kesan bendung. Karenanya, mereka menjaga kebersihan dan tidak menempati area pejalan kaki.
—
Ketahanan Pedagang Kecil di Tengah Perubahan
Kisah para pedagang Bendung Gerak Serayu menunjukkan bahwa kebijakan besar kadang memiliki dampak tak langsung bagi ekonomi mikro. Program MBG memberi manfaat kesehatan bagi anak-anak, namun pedagang kecil harus beradaptasi.
Namun, satu hal yang tidak berubah adalah semangat mereka.
Seperti kata Pak Mancung:
> “Sing penting itu ora mandek. Selama bisa usaha, Gusti Allah ora nutup lawang rezeki.”
Di tengah lanskap ekonomi yang terus bergerak, para pedagang inilah yang menjaga denyut kehidupan ruang publik — tidak hanya dengan aroma makanan, tetapi juga dengan keteguhan hati.
—
